Perubahan sosial dan dampaknya
A. Perubahan Sosialc. Adanya sikap menghargai terhadap hadirnya orang asing dan
kebudayaan yang dibawa.
d. Adanya sikap terbuka dari golongan berkuasa.
e. Adanya unsur-unsur kebudayaan yang sama.
f. Terjadinya perkawinan campuran.
g. Adanya musuh bersama dari luar.
Selain faktor-faktor pendorong terdapat juga faktor-faktor yang
dapat menghambat proses asimilasi antara lain:
a. Letak geografis yang terisolasi.
b. Rendahnya pengetahuan tentang kebudayaan lain.
c. Adanya ketakutan terhadap budaya lain.
d. Adanya sikap superior yang menilai tinggi kebudayaannya
sendiri.
e. Perasaan in-group yang kuat.
f. Adanya perbedaan kepentingan.
4. Akomodasi
Akomodasi adalah proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan lokal.
Contoh, penerimaan ide demokrasi dan ide tentang HAM dari
kebudayaan Barat. Proses penerimaan ini tentunya membawa
perubahan pada masyarakat yang bersangkutan. Karenanya melalui
proses akomodasi perubahan sosial dapat terjadi. Namun, dalam hal-
hal tertentu proses akomodasi merupakan proses penerimaan unsur-
unsur kebudayaan luar dalam rangka menghindari konflik.
Cobalah perhatikan lingkungan sekitarmu! Adakah perubahan-perubahan yang dapat kamu rasakan? Pada dasarnya, setiap kehidupan masyarakat senantiasa mengalami suatu perubahan.Perubahan-perubahan ini menjadi fenomena yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dikarenakan setiap manusia mempunyai kepentingan yang tidak
terbatas. Untuk mencapainya, manusia melakukan berbagai perubahan-perubahan. Perubahan bukan semata-mata
berarti suatu kemajuan, namun dapat pula berarti suatu kemunduran. Secara umum, unsur-unsur kemasyarakatan yang mengalami perubahan antara lain nilai-nilai sosial,norma-norma sosial, pola-pola perilaku, organisasi sosial,lembaga-lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial,
kekuasaan, tanggung jawab,kepemimpinan, dan sebagainya. Kesemua perubahan ini dinamakan perubahan sosial.Apa yang dimaksud dengan perubahan sosial?
Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial,
dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat (Selo Soemardjan: 1974). Hal ini dikarenakan sifat perubahan sosial yang berantai dan saling berhubungan antara satu unsur dengan yang unsur kemasyarakatan yang lainnya. Pengkajian mengenai perubahan
sosial relatif luas dan kompleks. Oleh karenanya, beberapa ahli sosial berusaha mendefinisikan pengertian perubahan sosial sebagai berikut.
1. Kingsley Davis
Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
William F. Ogburn
Perubahan sosial adalah perubahan yang mencakup unsur-unsur
kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan
adanya pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material
terhadap unsur-unsur immaterial.
3. Mac Iver
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam
hubungan (social relation) atau perubahan terhadap keseimbangan
(equilibrium) hubungan sosial.
4. Gillin dan Gillin
Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai suatu
variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya
perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi
penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.sebagai suatu perubahan sosial? Dewasa ini, perubahan-perubahan
sosial dapat diketahui karena adanya ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri yang
dimaksud antara lain:
1. Setiap masyarakat tidak akan berhenti berkembang karena mereka
mengalami perubahan baik lambat maupun cepat.
2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu
akan diikuti dengan perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainnya.
3. Perubahan sosial yang cepat dapat mengakibatkan terjadinya
disorganisasi yang bersifat sementara sebagai proses penyesuaian diri.
4. Perubahan tidak dibatasi oleh bidang kebendaan atau bidang spiri-
tual karena keduanya memiliki hubungan timbal balik yang kuat.
B. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
Perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat
dibedakan atas beberapa bentuk, yaitu perubahan evolusi dan
perubahan revolusi, perubahan berencana dan perubahan tidak
berencana, perubahan berpengaruh besar serta perubahan berpengaruh kecil.
1. Perubahan Evolusi dan Perubahan Revolusi
Berdasarkan cepat lambatnya, perubahan sosial dibedakan
menjadi dua bentuk umum yaitu perubahan yang ber-
langsung cepat dan perubahan yang berlangsung lambat.
Kedua bentuk perubahan tersebut dalam sosiologi dikenal
dengan revolusi dan evolusi.
a. Perubahan Evolusi
Perubahan evolusi adalah perubahan-perubahan
sosial yang terjadi dalam proses lambat, dalam waktu
yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari
masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan
ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan
masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi
karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna menyesuai-
kan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan per-
kembangan masyarakat pada waktu tertentu. Contoh, perubahan
sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.
Menurut Soerjono Soekanto (1987), terdapat tiga teori yang
mengupas tentang evolusi, yaitu:
1) Unilinier Theories of Evolution
Teori ini menyatakan bahwa manusia dan masyarakat meng-
alami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, dari
yang sederhana menjadi kompleks dan sampai pada tahap
yang sempurna.
2) Universal Theory of Evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak
perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Menurut teori
ini, kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi
yang tertentu.
3) Multilined Theories of Evolution
Teori ini menekankan pada penelitian terhadap tahap
perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya,
penelitian pada pengaruh perubahan sistem pencaharian dari
sistem berburu ke pertanian.
b. Perubahan Revolusi
Perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau
perencanaan sebelumnya. Secara sosiologis perubahan
revolusi diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial
mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-
lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif
cepat. Dalam revolusi, perubahan dapat terjadi dengan
direncanakan atau tidak direncanakan. Revolusi sering
kali diawali adanya ketegangan atau konflik dalam
tubuh masyarakat yang bersangkutan.
Revolusi tidak dapat terjadi di setiap situasi dan
kondisi masyarakat. Secara sosiologi, suatu revolusi
dapat terjadi harus memenuhi beberapa syarat tertentu.
Syarat-syarat tersebut antara lain:
1) Ada beberapa keinginan umum mengadakan suatu perubahan.
Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap
keadaan, dan harus ada suatu keinginan untuk mencapai
perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.
2) Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang
dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.
3) Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan
tersebut, untuk kemudian merumuskan serta menegaskan
rasa tidak puas dari masyarakat, untuk dijadikan program dan
arah bagi geraknya masyarakat.
4) Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan
pada masyarakat. Artinya adalah bahwa tujuan tersebut
bersifat konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Selain itu,
diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak. Misalnya
perumusan sesuatu ideologi tersebut.
5) Harus ada momentum untuk revolusi, yaitu suatu saat di mana
segala keadaan dan faktor adalah baik sekali untuk memulai
dengan gerakan revolusi. Apabila momentum (pemilihan
waktu yang tepat) yang dipilih keliru, maka revolusi dapat
gagal.
2.
Perubahan yang Direncanakan dan Perubahan
yang Tidak Direncanakan
Bagaimana uraian dari perubahan-perubahan tersebut, dapat kamu
perhatikan materi di bawah ini.
a. Perubahan yang Direncanakan
Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan yang
diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh
pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam
masyarakat (Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi: 1974).
Pihak-pihak yang menghendaki suatu perubahan
dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau
sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari
masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-
lembaga kemasyarakatan. Oleh karena itu, suatu
perubahan yang direncanakan selalu di bawah
pengendalian dan pengawasan agent of change. Secara
umum, perubahan berencana dapat juga disebut
perubahan dikehendaki. Misalnya, untuk mengurangi
angka kematian anak-anak akibat polio, pemerintah
mengadakan gerakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
atau untuk mengurangi pertumbuhan jumlah pendu-
duk pemerintah mengadakan program keluarga
berencana (KB).
b. Perubahan yang Tidak Direncanakan
Perubahan yang tidak direncanakan biasanya berupa
perubahan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat.
Karena terjadi di luar perkiraan dan jangkauan,
perubahan ini sering membawa masalah-masalah yang
memicu kekacauan atau kendala-kendala dalam
masyarakat. Oleh karenanya, perubahan yang tidak
dikehendaki sangat sulit ditebak kapan akan terjadi.
Misalnya, kasus banjir bandang di Sinjai, Kalimantan
Barat. Timbulnya banjir dikarenakan pembukaan lahan
yang kurang memerhatikan kelestarian lingkungan.
Sebagai akibatnya, banyak perkampungan dan
permukiman masyarakat terendam air yang meng-
haruskan para warganya mencari permukiman ba3. Perubahan Berpengaruh Besar dan Perubahan
yang Berpengaruh Kecil
Apa yang dimaksud dengan perubahan-perubahan tersebut
dapat kamu ikuti penjabarannya berikut ini.
a. Perubahan Berpengaruh Besar
Suatu perubahan dikatakan berpengaruh besar jika
perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya per-
ubahan pada struktur kemasyarakatan, hubungan kerja,
sistem mata pencaharian, dan stratifikasi masyarakat.
Sebagaimana tampak pada perubahan masyarakat
agraris menjadi industrialisasi. Pada perubahan ini
memberi pengaruh secara besar-besaran terhadap
jumlah kepadatan penduduk di wilayah industri dan
mengakibatkan adanya perubahan mata pencaharian.
b. Perubahan Berpengaruh Kecil
Perubahan-perubahan berpengaruh kecil merupakan perubahan-
perubahan yang terjadi pada struktur sosial yang tidak membawa
pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Contoh,
perubahan mode pakaian dan mode rambut. Perubahan-perubahan
tersebut tidak membawa pengaruh yang besar dalam masyarakat
karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga
C. Faktor Pendorong, Penghambat, dan
Penyebab Perubahan Sosial
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat umumnya
dikarenakan anggota masyarakat merasa tidak puas dengan kehidupan
yang lama. Norma-norma dan lembaga-lembaga yang ada dianggap
tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup yang baru. Oleh
karenanya, masyarakat menuntut adanya perubahan. Pada dasarnya,
perubahan tidak terjadi begitu saja tanpa ada faktor-faktor yang
memengaruhinya. Dalam sosiologi dijelaskan bahwa perubahan sosial
terjadi karena adanya faktor-faktor pendorong, penghambat, dan
penyebab perubahan sosial. Apa saja faktor-faktor tersebut akan
dipelajari bersama pada materi ini.
1. Faktor Pendorong Perubahan Sosial
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai
perubahan sosial, bahkan kamu mampu menemukan bentuk-bentuk
perubahan yang terjadi di masyarakat. Nah, sekarang
carilah faktor-faktor apa saja yang mampu mendorong
perubahan sosial, sebagai langkah awal memahami materi
ini.
Secara umum terjadinya perubahan sosial dalam
masyarakat dipengaruhi oleh faktor-faktor pendorong.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Kontak dengan Budaya Lain
Berhubungan dengan budaya lain dapat pula mendo-
rong munculnya perubahan sosial. Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya bahwa bila dua kebudayaan
saling bertemu maka kedua kebudayaan tersebut akan
saling memengaruhi yang akhirnya membawa perubah-
an. Hubungan atau kontak dengan kebudayaan lain
dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu difusi,
akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.
b. Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan formal dalam hal ini berarti pendidikan yang
ditempuh melalui jenjang-jenjang pendidikan seperti SD, SMP,
SMA, dan perguruan tinggi. Dengan pendidikan, kamu dapat
membuka pikiran serta menerima hal-hal baru. Selain itu, kamu
dapat membandingkan kebudayaan mana yang mampu memenuhi
kebutuhanmu serta kebudayaan mana yang tidak sesuai. Melalui
pengetahuan itu, mendorong individu mengadakan perubahan
untuk mencapai tujuan hidupnya.
c. Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan
Keinginan-Keinginan untuk Maju
Sikap tersebut merupakan salah satu sikap yang
mendorong munculnya penemuan-penemuan sosial
yang membawa perubahan sosial. Hal ini dikarenakan
jika hasil karya seseorang dihargai, maka seseorang
akan terpacu untuk menemukan sesuatu yang baru.
d. Sistem Terbuka dalam Lapisan-Lapisan Masyarakat
Sistem terbuka ini memungkinkan adanya gerak sosial
vertikal sehingga memberi kesempatan seseorang
untuk maju. Adanya kesempatan untuk menaiki
stratifikasi tinggi yang disediakan oleh sistem ini
mendorong seseorang melakukan perubahan menuju
ke arah yang lebih baik.
e. Penduduk yang Heterogen
Masyarakat yang heterogen akan lebih mudah melakukan
perubahan. Contoh, masyarakat Indonesia yang memiliki
kebudayaan, ras, dan ideologi yang berbeda-beda. Masyarakat
tersebut akan sangat mudah mengalami pertentangan. Perten-
tangan-pertentangan yang terjadi tentunya dapat menimbulkan
keguncangan yang pada akhirnya mendorong terjadinya
perubahan dalam masyarakat.
f. Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Kehidupan
Tertentu
Adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap suatu bidang tertentu,
mendorong masyarakat melakukan perubahan. Hal ini dapat
dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia.
Perubahan-perubahan ini timbul karena adanya ketidakpuasan
masyarakat terhadap cara kerja pemerintah.
2. Faktor Penghambat Perubahan Sosial
Dalam perubahan sosial selain faktor pendorong terdapat
juga faktor penghambat terjadinya perubahan sosial. Faktor-
faktor penghambat perubahan sosial antara lain:
a. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain
Kehidupan terasing menyebabkan sebuah masyarakat
tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang
terjadi di masyarakat lain. Mereka terkungkung dalam
tradisinya sendiri dan tidak mengalami perubahan.
Padahal kebudayaan lain dapat memperkaya kebuda-
yaannya sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa komunikasi merupakan kunci terjadinya
perubahan sosial budaya.
b. Sikap Masyarakat yang Sangat Tradisional
Masyarakat tradisional biasanya bersikap mengagung-
agungkan tradisi dan masa lampau. Mereka beranggap-
an bahwa tradisi tersebut secara mutlak tidak dapat
diubah. Anggapan inilah yang menghambat adanya
proses perubahan sosial. Keadaan tersebut akan
menjadi lebih buruk apabila yang berkuasa dalam
masyarakat yang bersangkutan adalah golongan
konservatif.
c. Rasa Takut akan Terjadinya Kegoyahan pada Integrasi
Kebudayaan
Pada dasarnya semua unsur kebudayaan tidak mungkin
berintegrasi dengan sempurna. Namun demikian,
terdapat beberapa unsur tertentu memiliki derajat
integrasi yang tinggi. Keadaan inilah yang membuat
suatu masyarakat merasa khawatir dengan datangnya
unsur-unsur dari luar. Hal ini dikarenakan unsur-unsur tersebut
mampu menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-
perubahan pada aspek-aspek tertentu di masyarakat.
d. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Terlambat
Terlambatnya perkembangan ilmu pengetahuan suatu masyarakat
dimungkinkan karena kehidupan masyarakat yang terasing dan
tertutup. Namun, dapat pula dikarenakan sebagai akibat dijajah
oleh masyarakat lain. Biasanya masyarakat yang dijajah dengan
sengaja dibiarkan terbelakang oleh masyarakat yang menjajah. Hal
ini dimaksudkan menjaga kemurnian masyarakat guna mencegah
terjadinya pemberontakan atau revolusi.
e. Adat atau Kebiasaan
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya.
Adat dan kebiasaan ini dapat berupa kepercayaan, sistem mata
pencaharian, pembuatan rumah, dan cara berpakaian tertentu.
Adat dan kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian kehidupan
masyarakat sehingga sukar untuk diubah.
f. Prasangka terhadap Hal-Hal yang Baru atau Sikap yang
Tertutup
Sikap demikian dapat dijumpai pada masyarakat yang pernah
dijajah. Mereka selalu mencurigai sesuatu yang berasal dari negara-
negara Barat. Secara kebetulan unsur-unsur baru kebanyakan
berasal dari negara-negara Barat. Sehingga segala sesuatu yang
berasal dari negara-negara Barat mendapat prasangka buruk oleh
masyarakat setempat.
g. Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis
Setiap usaha mengadakan perubahan pada unsur-unsur
kebudayaan rohaniah biasanya diartikan sebagai usaha yang
berlawanan dengan ideologi. Di mana ideologi masyarakat
merupakan dasar integrasi masyarakat tersebut. Oleh karenanya,
perubahan sosial tidak terjadi.
3. Faktor Penyebab Perubahan Sosial
Secara umum dapat dikatakan bahwa timbulnya perubahan sosial
dapat disebabkan dari dalam masyarakat itu sendiri (faktor intern)
dan dari pengaruh masyarakat lain atau dari alam sekitarnya (faktor
ekstern).
a. Faktor internal merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam
masyarakat itu sendiri. Yang dimaksud dengan masyarakat di sini
dapat kolektif dan dapat pula individual. Faktor-faktor internal
tersebut antara lain:
1) Bertambah atau Berkurangnya Penduduk
Bertambahnya penduduk yang sangat cepat
menyebabkan terjadinya perubahan dalam struk-
tur masyarakat, terutama yang menyangkut
lembaga-lembaga kemasyarakatan. Contoh, dengan
adanya urbanisasi, mencetak pengangguran-
pengangguran baru yang menyebabkan meningkat-
nya angka kemiskinan. Situasi ini mengakibatkan
tingginya angka kriminalitas di kota-kota besar.
Sedangkan berkurangnya penduduk karena
urbanisasi mengakibatkan kekosongan yang
berakibat berubahnya bidang pembagian kerja,
stratifikasi sosial, dan lain-lain.
2) Penemuan-Penemuan Baru (Inovasi)
Penemuan-penemuan baru sebagai akibat terjadinya
perubahan dapat dibedakan menjadi discovery dan invention.
discovery merupakan penemuan baru dari suatu
unsur kebudayaan yang baru, baik yang berupa alat
baru ataupun berupa suatu ide yang baru. Contoh,
penemuan mobil diawali dengan pembuatan motor
gas oleh S. Marcus.
Selanjutnya, discovery menjadi invention jika
masyarakat sudah mengakui, menerima, bahkan
menerapkan penemuan tersebut. Adanya mobil
yang telah disempurnakan menjadi sebuah alat
pengangkutan manusia merupakan salah satu
wujud invention. Invention menunjuk pada upaya
menghasilkan suatu unsur kebudayaan baru
dengan mengombinasikan atau menyusun kembali
unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada
dalam masyarakat.
Menurut Koentjaraningrat, faktor-faktor pendorong
individu mencari penemuan baru sebagai berikut.
a) Kesadaran dari orang per orang akan kekurangan dalam
kebudayaannya.
b) Kualitas dari ahli-ahli dalam suatu keadaan.
c) Perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam
masyarakat.
3) Konflik dalam Masyarakat
Pertentangan atau konflik dalam masyarakat
mampu pula menyebabkan terjadinya perubahan
sosial. Secara umum pertentangan tersebut dapat
berupa pertentangan antarindividu, antara
individu dengan kelompok, antarkelompok serta
konflik antargenerasi. Pada umumnya akibat
konflik dapat merenggangkan kekeluargaan atau
golongan. Hal inilah yang menyebabkan perubahan
sosial dalam masyarakat.
4) Pemberontakan dan Revolusi
Pada umumnya pemberontakan terjadi karena adanya
ketidakpuasan anggota masyarakat terhadap suatu sistem
pemerintahan yang ada. Oleh karena situasi dan kondisi ini
mendorong munculnya revolusi sebagai wujud dari
pemberontakan. Adanya revolusi akan membawa perubahan-
perubahan yang besar dan berlangsung cepat. Misalnya,
revolusi Mei yang terjadi di Indonesia, perubahan-perubahan
besar terjadi di Indonesia baik perubahan kepala negara, wakil
kepala negara, struktur kabinet sampai pada perilaku warga
masyarakat. Masyarakat menjadi lebih berani mengkritisi cara
kerja pemerintah.
b. Faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang berasal dari luar
masyarakat yang bisa mendorong terjadinya perubahan sosial.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
1) Lingkungan Alam/Fisik di Sekitar Manusia
Lingkungan alam dapat mengakibatkan perubahan
sosial. Terjadinya gempa bumi, banjir bandang,
tsunami, topan, gunung meletus, dan lain-lain
mengakibatkan sebagian warga yang tinggal di
daerah tersebut terpaksa mengungsi ke daerah lain.
Di tempat pengungsian, mereka harus beradaptasi
dengan lingkungan sekitarnya baik lingkungan fisik
maupun sosialnya, kondisi ini mengakibatkan per-
ubahan-perubahan pada lembaga-lembaga ke-
masyarakatan. Contoh, masyarakat di Desa Siring,
Porong, Sidoarjo. Akibat luapan lumpur panas
mereka terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya
dan untuk sementara mereka tidak bekerja.
2) Peperangan
Peperangan, terutama yang melibatkan dua negara
dengan segala kekuatannya, berarti peperangan
terjadi antara masyarakat yang satu dengan
masyarakat lain di luar batas-batas negara. Sebagai
akibatnya, rakyat mengalami kehidupan yang
penuh ketakutan, harta benda menjadi hancur,
menimbulkan kemiskinan dan tidak menutup
kemungkinan menelan banyak korban jiwa.
Akibatnya struktur masyarakat pun mengalami
perubahan, sebagaimana perubahan yang terjadi
pada negara Jepang setelah kalah dalam Perang
Dunia II. Jepang berubah dari negara agraris militer
menjadi suatu negara industri.
3) Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain
Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat
mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh
timbal balik. Yang pada akhirnya, memunculkan perubahan
sosial. Hal ini dikarenakan masing-masing masyarakat
memengaruhi masyarakat lain, tetapi juga menerima pengaruh
dari yang lain sehingga terjadi penyebaran kebudayaan yang
menghasilkan kebudayaan baru.
D. Proses Terjadinya Perubahan Sosial
Menurut Alvin L. Bertrand (sebagaimana dikutip Arif Rohman,
2002), proses awal perubahan sosial adalah adanya komunikasi.
Melalui kontak dan komunikasi, unsur-unsur kebudayaan baru dapat
menyebar baik berupa ide-ide, gagasan, keyakinan, maupun kebendaan.
Proses penyebaran unsur kebudayaan dari satu masyarakat kepada
masyarakat lainnya disebut proses difusi. Proses berlangsungnya
difusi akan mendorong terjadinya akulturasi dan asimilasi. Kesemua
proses ini akan kita kaji bersama materi berikut ini.
1. Difusi
Difusi merupakan suatu proses penyebaran unsur-unsur
kebudayaan dari orang perorangan kepada orang perorangan yang lain,
dan dari masyarakat ke masyarakat lain. Misalnya, terdapat penemuan
baru dalam suatu masyarakat, maka penemuan itu dapat diteruskan
dan disebarkan kepada masyarakat yang lain dengan cara difusi
sehingga mereka pun dapat menikmati manfaat dari penemuan baru
itu. Oleh karena itu, difusi dapat menjadi pendorong bagi tumbuhnya
suatu kebudayaan dan menambah kebudayaan-kebudayaan manusia
yang telah ada.
Masuknya unsur-unsur kebudayaan baru secara difusi dapat
terjadi dengan cara-cara sebagai berikut.
a. Hubungan Simbiotik
Hubungan simbiotik adalah suatu hubungan di mana bentuk dari
masing-masing kebudayaan hampir tidak berubah. Contoh:
pertukaran pelajar antarnegara
b. Secara Damai (Penetration Pacifique)
Dengan cara ini, unsur-unsur kebudayaan baru masuk ke suatu
kebudayaan secara damai. Contohnya yaitu perubahan model baju.
Banyak tren-tren baju saat ini yang dipengaruhi oleh budaya luar.
Unsur-unsur asing ini diterima dengan tidak sengaja dan tanpa
paksaan.
c. Peperangan (Kekerasan)
Unsur kebudayaan baru yang dapat dimasukkan secara paksa ke
dalam kebudayaan penerimanya. Cara seperti ini dapat dilaku-
kan dengan peperangan.
2. Akulturasi
Akulturasi merupakan proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan
baru dari luar secara lambat dengan tidak menghilangkan sifat khas
kepribadian kebudayaan sendiri. Contoh, budaya selamatan merupa-
kan bentuk akulturasi antara budaya lokal dalam budaya Jawa dengan
budaya Islam.
3. Asimilasi
Asimilasi merupakan proses penerimaan unsur-unsur
kebudayaan dari luar yang bercampur dengan unsur-unsur
kebudayaan lokal menjadi unsur-unsur kebudayaan baru
yang berbeda. Contoh, membaurnya etnis Tionghoa dengan
masyarakat pribumi. Proses asimilasi akan berlangsung
lancar dan cepat dipengaruhi oleh beberapa faktor
pendorong, yaitu:
a. Adanya toleransi antarkebudayaan yang berbeda.
b. Adanya kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi.
c. Adanya sikap menghargai terhadap hadirnya orang asing dan
kebudayaan yang dibawa.
d. Adanya sikap terbuka dari golongan berkuasa.
e. Adanya unsur-unsur kebudayaan yang sama.
f. Terjadinya perkawinan campuran.
g. Adanya musuh bersama dari luar.
Selain faktor-faktor pendorong terdapat juga faktor-faktor yang
dapat menghambat proses asimilasi antara lain:
a. Letak geografis yang terisolasi.
b. Rendahnya pengetahuan tentang kebudayaan lain.
c. Adanya ketakutan terhadap budaya lain.
d. Adanya sikap superior yang menilai tinggi kebudayaannya
sendiri.
e. Perasaan in-group yang kuat.
f. Adanya perbedaan kepentingan.
4. Akomodasi
Akomodasi adalah proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan lokal.
Contoh, penerimaan ide demokrasi dan ide tentang HAM dari
kebudayaan Barat. Proses penerimaan ini tentunya membawa
perubahan pada masyarakat yang bersangkutan. Karenanya melalui
proses akomodasi perubahan sosial dapat terjadi. Namun, dalam hal-
hal tertentu proses akomodasi merupakan proses penerimaan unsur-
unsur kebudayaan luar dalam rangka menghindari konflik.
kebudayaan yang dibawa.
d. Adanya sikap terbuka dari golongan berkuasa.
e. Adanya unsur-unsur kebudayaan yang sama.
f. Terjadinya perkawinan campuran.
g. Adanya musuh bersama dari luar.
Selain faktor-faktor pendorong terdapat juga faktor-faktor yang
dapat menghambat proses asimilasi antara lain:
a. Letak geografis yang terisolasi.
b. Rendahnya pengetahuan tentang kebudayaan lain.
c. Adanya ketakutan terhadap budaya lain.
d. Adanya sikap superior yang menilai tinggi kebudayaannya
sendiri.
e. Perasaan in-group yang kuat.
f. Adanya perbedaan kepentingan.
4. Akomodasi
Akomodasi adalah proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan lokal.
Contoh, penerimaan ide demokrasi dan ide tentang HAM dari
kebudayaan Barat. Proses penerimaan ini tentunya membawa
perubahan pada masyarakat yang bersangkutan. Karenanya melalui
proses akomodasi perubahan sosial dapat terjadi. Namun, dalam hal-
hal tertentu proses akomodasi merupakan proses penerimaan unsur-
unsur kebudayaan luar dalam rangka menghindari konflik.
Cobalah perhatikan lingkungan sekitarmu! Adakah perubahan-perubahan yang dapat kamu rasakan? Pada dasarnya, setiap kehidupan masyarakat senantiasa mengalami suatu perubahan.Perubahan-perubahan ini menjadi fenomena yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini dikarenakan setiap manusia mempunyai kepentingan yang tidak
terbatas. Untuk mencapainya, manusia melakukan berbagai perubahan-perubahan. Perubahan bukan semata-mata
berarti suatu kemajuan, namun dapat pula berarti suatu kemunduran. Secara umum, unsur-unsur kemasyarakatan yang mengalami perubahan antara lain nilai-nilai sosial,norma-norma sosial, pola-pola perilaku, organisasi sosial,lembaga-lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial,
kekuasaan, tanggung jawab,kepemimpinan, dan sebagainya. Kesemua perubahan ini dinamakan perubahan sosial.Apa yang dimaksud dengan perubahan sosial?
Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial,
dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat (Selo Soemardjan: 1974). Hal ini dikarenakan sifat perubahan sosial yang berantai dan saling berhubungan antara satu unsur dengan yang unsur kemasyarakatan yang lainnya. Pengkajian mengenai perubahan
sosial relatif luas dan kompleks. Oleh karenanya, beberapa ahli sosial berusaha mendefinisikan pengertian perubahan sosial sebagai berikut.
1. Kingsley Davis
Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
William F. Ogburn
Perubahan sosial adalah perubahan yang mencakup unsur-unsur
kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan
adanya pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material
terhadap unsur-unsur immaterial.
3. Mac Iver
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam
hubungan (social relation) atau perubahan terhadap keseimbangan
(equilibrium) hubungan sosial.
4. Gillin dan Gillin
Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai suatu
variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya
perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi
penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.sebagai suatu perubahan sosial? Dewasa ini, perubahan-perubahan
sosial dapat diketahui karena adanya ciri-ciri tertentu. Ciri-ciri yang
dimaksud antara lain:
1. Setiap masyarakat tidak akan berhenti berkembang karena mereka
mengalami perubahan baik lambat maupun cepat.
2. Perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan tertentu
akan diikuti dengan perubahan pada lembaga-lembaga sosial lainnya.
3. Perubahan sosial yang cepat dapat mengakibatkan terjadinya
disorganisasi yang bersifat sementara sebagai proses penyesuaian diri.
4. Perubahan tidak dibatasi oleh bidang kebendaan atau bidang spiri-
tual karena keduanya memiliki hubungan timbal balik yang kuat.
B. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial
Perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat dapat
dibedakan atas beberapa bentuk, yaitu perubahan evolusi dan
perubahan revolusi, perubahan berencana dan perubahan tidak
berencana, perubahan berpengaruh besar serta perubahan berpengaruh kecil.
1. Perubahan Evolusi dan Perubahan Revolusi
Berdasarkan cepat lambatnya, perubahan sosial dibedakan
menjadi dua bentuk umum yaitu perubahan yang ber-
langsung cepat dan perubahan yang berlangsung lambat.
Kedua bentuk perubahan tersebut dalam sosiologi dikenal
dengan revolusi dan evolusi.
a. Perubahan Evolusi
Perubahan evolusi adalah perubahan-perubahan
sosial yang terjadi dalam proses lambat, dalam waktu
yang cukup lama dan tanpa ada kehendak tertentu dari
masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan
ini berlangsung mengikuti kondisi perkembangan
masyarakat, yaitu sejalan dengan usaha-usaha
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan sosial terjadi
karena dorongan dari usaha-usaha masyarakat guna menyesuai-
kan diri terhadap kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan per-
kembangan masyarakat pada waktu tertentu. Contoh, perubahan
sosial dari masyarakat berburu menuju ke masyarakat meramu.
Menurut Soerjono Soekanto (1987), terdapat tiga teori yang
mengupas tentang evolusi, yaitu:
1) Unilinier Theories of Evolution
Teori ini menyatakan bahwa manusia dan masyarakat meng-
alami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, dari
yang sederhana menjadi kompleks dan sampai pada tahap
yang sempurna.
2) Universal Theory of Evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak
perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Menurut teori
ini, kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi
yang tertentu.
3) Multilined Theories of Evolution
Teori ini menekankan pada penelitian terhadap tahap
perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya,
penelitian pada pengaruh perubahan sistem pencaharian dari
sistem berburu ke pertanian.
b. Perubahan Revolusi
Perubahan revolusi merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan tidak ada kehendak atau
perencanaan sebelumnya. Secara sosiologis perubahan
revolusi diartikan sebagai perubahan-perubahan sosial
mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-
lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif
cepat. Dalam revolusi, perubahan dapat terjadi dengan
direncanakan atau tidak direncanakan. Revolusi sering
kali diawali adanya ketegangan atau konflik dalam
tubuh masyarakat yang bersangkutan.
Revolusi tidak dapat terjadi di setiap situasi dan
kondisi masyarakat. Secara sosiologi, suatu revolusi
dapat terjadi harus memenuhi beberapa syarat tertentu.
Syarat-syarat tersebut antara lain:
1) Ada beberapa keinginan umum mengadakan suatu perubahan.
Di dalam masyarakat harus ada perasaan tidak puas terhadap
keadaan, dan harus ada suatu keinginan untuk mencapai
perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut.
2) Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang
dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut.
3) Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan
tersebut, untuk kemudian merumuskan serta menegaskan
rasa tidak puas dari masyarakat, untuk dijadikan program dan
arah bagi geraknya masyarakat.
4) Pemimpin tersebut harus dapat menunjukkan suatu tujuan
pada masyarakat. Artinya adalah bahwa tujuan tersebut
bersifat konkret dan dapat dilihat oleh masyarakat. Selain itu,
diperlukan juga suatu tujuan yang abstrak. Misalnya
perumusan sesuatu ideologi tersebut.
5) Harus ada momentum untuk revolusi, yaitu suatu saat di mana
segala keadaan dan faktor adalah baik sekali untuk memulai
dengan gerakan revolusi. Apabila momentum (pemilihan
waktu yang tepat) yang dipilih keliru, maka revolusi dapat
gagal.
2.
Perubahan yang Direncanakan dan Perubahan
yang Tidak Direncanakan
Bagaimana uraian dari perubahan-perubahan tersebut, dapat kamu
perhatikan materi di bawah ini.
a. Perubahan yang Direncanakan
Perubahan yang direncanakan adalah perubahan-perubahan yang
diperkirakan atau yang telah direncanakan terlebih dahulu oleh
pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam
masyarakat (Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi: 1974).
Pihak-pihak yang menghendaki suatu perubahan
dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau
sekelompok orang yang mendapat kepercayaan dari
masyarakat sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-
lembaga kemasyarakatan. Oleh karena itu, suatu
perubahan yang direncanakan selalu di bawah
pengendalian dan pengawasan agent of change. Secara
umum, perubahan berencana dapat juga disebut
perubahan dikehendaki. Misalnya, untuk mengurangi
angka kematian anak-anak akibat polio, pemerintah
mengadakan gerakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN)
atau untuk mengurangi pertumbuhan jumlah pendu-
duk pemerintah mengadakan program keluarga
berencana (KB).
b. Perubahan yang Tidak Direncanakan
Perubahan yang tidak direncanakan biasanya berupa
perubahan yang tidak dikehendaki oleh masyarakat.
Karena terjadi di luar perkiraan dan jangkauan,
perubahan ini sering membawa masalah-masalah yang
memicu kekacauan atau kendala-kendala dalam
masyarakat. Oleh karenanya, perubahan yang tidak
dikehendaki sangat sulit ditebak kapan akan terjadi.
Misalnya, kasus banjir bandang di Sinjai, Kalimantan
Barat. Timbulnya banjir dikarenakan pembukaan lahan
yang kurang memerhatikan kelestarian lingkungan.
Sebagai akibatnya, banyak perkampungan dan
permukiman masyarakat terendam air yang meng-
haruskan para warganya mencari permukiman ba3. Perubahan Berpengaruh Besar dan Perubahan
yang Berpengaruh Kecil
Apa yang dimaksud dengan perubahan-perubahan tersebut
dapat kamu ikuti penjabarannya berikut ini.
a. Perubahan Berpengaruh Besar
Suatu perubahan dikatakan berpengaruh besar jika
perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya per-
ubahan pada struktur kemasyarakatan, hubungan kerja,
sistem mata pencaharian, dan stratifikasi masyarakat.
Sebagaimana tampak pada perubahan masyarakat
agraris menjadi industrialisasi. Pada perubahan ini
memberi pengaruh secara besar-besaran terhadap
jumlah kepadatan penduduk di wilayah industri dan
mengakibatkan adanya perubahan mata pencaharian.
b. Perubahan Berpengaruh Kecil
Perubahan-perubahan berpengaruh kecil merupakan perubahan-
perubahan yang terjadi pada struktur sosial yang tidak membawa
pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Contoh,
perubahan mode pakaian dan mode rambut. Perubahan-perubahan
tersebut tidak membawa pengaruh yang besar dalam masyarakat
karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga
C. Faktor Pendorong, Penghambat, dan
Penyebab Perubahan Sosial
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat umumnya
dikarenakan anggota masyarakat merasa tidak puas dengan kehidupan
yang lama. Norma-norma dan lembaga-lembaga yang ada dianggap
tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan hidup yang baru. Oleh
karenanya, masyarakat menuntut adanya perubahan. Pada dasarnya,
perubahan tidak terjadi begitu saja tanpa ada faktor-faktor yang
memengaruhinya. Dalam sosiologi dijelaskan bahwa perubahan sosial
terjadi karena adanya faktor-faktor pendorong, penghambat, dan
penyebab perubahan sosial. Apa saja faktor-faktor tersebut akan
dipelajari bersama pada materi ini.
1. Faktor Pendorong Perubahan Sosial
Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai
perubahan sosial, bahkan kamu mampu menemukan bentuk-bentuk
perubahan yang terjadi di masyarakat. Nah, sekarang
carilah faktor-faktor apa saja yang mampu mendorong
perubahan sosial, sebagai langkah awal memahami materi
ini.
Secara umum terjadinya perubahan sosial dalam
masyarakat dipengaruhi oleh faktor-faktor pendorong.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Kontak dengan Budaya Lain
Berhubungan dengan budaya lain dapat pula mendo-
rong munculnya perubahan sosial. Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya bahwa bila dua kebudayaan
saling bertemu maka kedua kebudayaan tersebut akan
saling memengaruhi yang akhirnya membawa perubah-
an. Hubungan atau kontak dengan kebudayaan lain
dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu difusi,
akulturasi, asimilasi, dan akomodasi.
b. Sistem Pendidikan Formal yang Maju
Pendidikan formal dalam hal ini berarti pendidikan yang
ditempuh melalui jenjang-jenjang pendidikan seperti SD, SMP,
SMA, dan perguruan tinggi. Dengan pendidikan, kamu dapat
membuka pikiran serta menerima hal-hal baru. Selain itu, kamu
dapat membandingkan kebudayaan mana yang mampu memenuhi
kebutuhanmu serta kebudayaan mana yang tidak sesuai. Melalui
pengetahuan itu, mendorong individu mengadakan perubahan
untuk mencapai tujuan hidupnya.
c. Sikap Menghargai Hasil Karya Seseorang dan
Keinginan-Keinginan untuk Maju
Sikap tersebut merupakan salah satu sikap yang
mendorong munculnya penemuan-penemuan sosial
yang membawa perubahan sosial. Hal ini dikarenakan
jika hasil karya seseorang dihargai, maka seseorang
akan terpacu untuk menemukan sesuatu yang baru.
d. Sistem Terbuka dalam Lapisan-Lapisan Masyarakat
Sistem terbuka ini memungkinkan adanya gerak sosial
vertikal sehingga memberi kesempatan seseorang
untuk maju. Adanya kesempatan untuk menaiki
stratifikasi tinggi yang disediakan oleh sistem ini
mendorong seseorang melakukan perubahan menuju
ke arah yang lebih baik.
e. Penduduk yang Heterogen
Masyarakat yang heterogen akan lebih mudah melakukan
perubahan. Contoh, masyarakat Indonesia yang memiliki
kebudayaan, ras, dan ideologi yang berbeda-beda. Masyarakat
tersebut akan sangat mudah mengalami pertentangan. Perten-
tangan-pertentangan yang terjadi tentunya dapat menimbulkan
keguncangan yang pada akhirnya mendorong terjadinya
perubahan dalam masyarakat.
f. Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Kehidupan
Tertentu
Adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap suatu bidang tertentu,
mendorong masyarakat melakukan perubahan. Hal ini dapat
dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia.
Perubahan-perubahan ini timbul karena adanya ketidakpuasan
masyarakat terhadap cara kerja pemerintah.
2. Faktor Penghambat Perubahan Sosial
Dalam perubahan sosial selain faktor pendorong terdapat
juga faktor penghambat terjadinya perubahan sosial. Faktor-
faktor penghambat perubahan sosial antara lain:
a. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain
Kehidupan terasing menyebabkan sebuah masyarakat
tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang
terjadi di masyarakat lain. Mereka terkungkung dalam
tradisinya sendiri dan tidak mengalami perubahan.
Padahal kebudayaan lain dapat memperkaya kebuda-
yaannya sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa komunikasi merupakan kunci terjadinya
perubahan sosial budaya.
b. Sikap Masyarakat yang Sangat Tradisional
Masyarakat tradisional biasanya bersikap mengagung-
agungkan tradisi dan masa lampau. Mereka beranggap-
an bahwa tradisi tersebut secara mutlak tidak dapat
diubah. Anggapan inilah yang menghambat adanya
proses perubahan sosial. Keadaan tersebut akan
menjadi lebih buruk apabila yang berkuasa dalam
masyarakat yang bersangkutan adalah golongan
konservatif.
c. Rasa Takut akan Terjadinya Kegoyahan pada Integrasi
Kebudayaan
Pada dasarnya semua unsur kebudayaan tidak mungkin
berintegrasi dengan sempurna. Namun demikian,
terdapat beberapa unsur tertentu memiliki derajat
integrasi yang tinggi. Keadaan inilah yang membuat
suatu masyarakat merasa khawatir dengan datangnya
unsur-unsur dari luar. Hal ini dikarenakan unsur-unsur tersebut
mampu menggoyahkan integrasi dan menyebabkan perubahan-
perubahan pada aspek-aspek tertentu di masyarakat.
d. Perkembangan Ilmu Pengetahuan yang Terlambat
Terlambatnya perkembangan ilmu pengetahuan suatu masyarakat
dimungkinkan karena kehidupan masyarakat yang terasing dan
tertutup. Namun, dapat pula dikarenakan sebagai akibat dijajah
oleh masyarakat lain. Biasanya masyarakat yang dijajah dengan
sengaja dibiarkan terbelakang oleh masyarakat yang menjajah. Hal
ini dimaksudkan menjaga kemurnian masyarakat guna mencegah
terjadinya pemberontakan atau revolusi.
e. Adat atau Kebiasaan
Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota
masyarakat dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya.
Adat dan kebiasaan ini dapat berupa kepercayaan, sistem mata
pencaharian, pembuatan rumah, dan cara berpakaian tertentu.
Adat dan kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian kehidupan
masyarakat sehingga sukar untuk diubah.
f. Prasangka terhadap Hal-Hal yang Baru atau Sikap yang
Tertutup
Sikap demikian dapat dijumpai pada masyarakat yang pernah
dijajah. Mereka selalu mencurigai sesuatu yang berasal dari negara-
negara Barat. Secara kebetulan unsur-unsur baru kebanyakan
berasal dari negara-negara Barat. Sehingga segala sesuatu yang
berasal dari negara-negara Barat mendapat prasangka buruk oleh
masyarakat setempat.
g. Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis
Setiap usaha mengadakan perubahan pada unsur-unsur
kebudayaan rohaniah biasanya diartikan sebagai usaha yang
berlawanan dengan ideologi. Di mana ideologi masyarakat
merupakan dasar integrasi masyarakat tersebut. Oleh karenanya,
perubahan sosial tidak terjadi.
3. Faktor Penyebab Perubahan Sosial
Secara umum dapat dikatakan bahwa timbulnya perubahan sosial
dapat disebabkan dari dalam masyarakat itu sendiri (faktor intern)
dan dari pengaruh masyarakat lain atau dari alam sekitarnya (faktor
ekstern).
a. Faktor internal merupakan faktor-faktor yang berasal dari dalam
masyarakat itu sendiri. Yang dimaksud dengan masyarakat di sini
dapat kolektif dan dapat pula individual. Faktor-faktor internal
tersebut antara lain:
1) Bertambah atau Berkurangnya Penduduk
Bertambahnya penduduk yang sangat cepat
menyebabkan terjadinya perubahan dalam struk-
tur masyarakat, terutama yang menyangkut
lembaga-lembaga kemasyarakatan. Contoh, dengan
adanya urbanisasi, mencetak pengangguran-
pengangguran baru yang menyebabkan meningkat-
nya angka kemiskinan. Situasi ini mengakibatkan
tingginya angka kriminalitas di kota-kota besar.
Sedangkan berkurangnya penduduk karena
urbanisasi mengakibatkan kekosongan yang
berakibat berubahnya bidang pembagian kerja,
stratifikasi sosial, dan lain-lain.
2) Penemuan-Penemuan Baru (Inovasi)
Penemuan-penemuan baru sebagai akibat terjadinya
perubahan dapat dibedakan menjadi discovery dan invention.
discovery merupakan penemuan baru dari suatu
unsur kebudayaan yang baru, baik yang berupa alat
baru ataupun berupa suatu ide yang baru. Contoh,
penemuan mobil diawali dengan pembuatan motor
gas oleh S. Marcus.
Selanjutnya, discovery menjadi invention jika
masyarakat sudah mengakui, menerima, bahkan
menerapkan penemuan tersebut. Adanya mobil
yang telah disempurnakan menjadi sebuah alat
pengangkutan manusia merupakan salah satu
wujud invention. Invention menunjuk pada upaya
menghasilkan suatu unsur kebudayaan baru
dengan mengombinasikan atau menyusun kembali
unsur-unsur kebudayaan lama yang telah ada
dalam masyarakat.
Menurut Koentjaraningrat, faktor-faktor pendorong
individu mencari penemuan baru sebagai berikut.
a) Kesadaran dari orang per orang akan kekurangan dalam
kebudayaannya.
b) Kualitas dari ahli-ahli dalam suatu keadaan.
c) Perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam
masyarakat.
3) Konflik dalam Masyarakat
Pertentangan atau konflik dalam masyarakat
mampu pula menyebabkan terjadinya perubahan
sosial. Secara umum pertentangan tersebut dapat
berupa pertentangan antarindividu, antara
individu dengan kelompok, antarkelompok serta
konflik antargenerasi. Pada umumnya akibat
konflik dapat merenggangkan kekeluargaan atau
golongan. Hal inilah yang menyebabkan perubahan
sosial dalam masyarakat.
4) Pemberontakan dan Revolusi
Pada umumnya pemberontakan terjadi karena adanya
ketidakpuasan anggota masyarakat terhadap suatu sistem
pemerintahan yang ada. Oleh karena situasi dan kondisi ini
mendorong munculnya revolusi sebagai wujud dari
pemberontakan. Adanya revolusi akan membawa perubahan-
perubahan yang besar dan berlangsung cepat. Misalnya,
revolusi Mei yang terjadi di Indonesia, perubahan-perubahan
besar terjadi di Indonesia baik perubahan kepala negara, wakil
kepala negara, struktur kabinet sampai pada perilaku warga
masyarakat. Masyarakat menjadi lebih berani mengkritisi cara
kerja pemerintah.
b. Faktor eksternal merupakan faktor-faktor yang berasal dari luar
masyarakat yang bisa mendorong terjadinya perubahan sosial.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
1) Lingkungan Alam/Fisik di Sekitar Manusia
Lingkungan alam dapat mengakibatkan perubahan
sosial. Terjadinya gempa bumi, banjir bandang,
tsunami, topan, gunung meletus, dan lain-lain
mengakibatkan sebagian warga yang tinggal di
daerah tersebut terpaksa mengungsi ke daerah lain.
Di tempat pengungsian, mereka harus beradaptasi
dengan lingkungan sekitarnya baik lingkungan fisik
maupun sosialnya, kondisi ini mengakibatkan per-
ubahan-perubahan pada lembaga-lembaga ke-
masyarakatan. Contoh, masyarakat di Desa Siring,
Porong, Sidoarjo. Akibat luapan lumpur panas
mereka terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya
dan untuk sementara mereka tidak bekerja.
2) Peperangan
Peperangan, terutama yang melibatkan dua negara
dengan segala kekuatannya, berarti peperangan
terjadi antara masyarakat yang satu dengan
masyarakat lain di luar batas-batas negara. Sebagai
akibatnya, rakyat mengalami kehidupan yang
penuh ketakutan, harta benda menjadi hancur,
menimbulkan kemiskinan dan tidak menutup
kemungkinan menelan banyak korban jiwa.
Akibatnya struktur masyarakat pun mengalami
perubahan, sebagaimana perubahan yang terjadi
pada negara Jepang setelah kalah dalam Perang
Dunia II. Jepang berubah dari negara agraris militer
menjadi suatu negara industri.
3) Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain
Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua masyarakat
mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan pengaruh
timbal balik. Yang pada akhirnya, memunculkan perubahan
sosial. Hal ini dikarenakan masing-masing masyarakat
memengaruhi masyarakat lain, tetapi juga menerima pengaruh
dari yang lain sehingga terjadi penyebaran kebudayaan yang
menghasilkan kebudayaan baru.
D. Proses Terjadinya Perubahan Sosial
Menurut Alvin L. Bertrand (sebagaimana dikutip Arif Rohman,
2002), proses awal perubahan sosial adalah adanya komunikasi.
Melalui kontak dan komunikasi, unsur-unsur kebudayaan baru dapat
menyebar baik berupa ide-ide, gagasan, keyakinan, maupun kebendaan.
Proses penyebaran unsur kebudayaan dari satu masyarakat kepada
masyarakat lainnya disebut proses difusi. Proses berlangsungnya
difusi akan mendorong terjadinya akulturasi dan asimilasi. Kesemua
proses ini akan kita kaji bersama materi berikut ini.
1. Difusi
Difusi merupakan suatu proses penyebaran unsur-unsur
kebudayaan dari orang perorangan kepada orang perorangan yang lain,
dan dari masyarakat ke masyarakat lain. Misalnya, terdapat penemuan
baru dalam suatu masyarakat, maka penemuan itu dapat diteruskan
dan disebarkan kepada masyarakat yang lain dengan cara difusi
sehingga mereka pun dapat menikmati manfaat dari penemuan baru
itu. Oleh karena itu, difusi dapat menjadi pendorong bagi tumbuhnya
suatu kebudayaan dan menambah kebudayaan-kebudayaan manusia
yang telah ada.
Masuknya unsur-unsur kebudayaan baru secara difusi dapat
terjadi dengan cara-cara sebagai berikut.
a. Hubungan Simbiotik
Hubungan simbiotik adalah suatu hubungan di mana bentuk dari
masing-masing kebudayaan hampir tidak berubah. Contoh:
pertukaran pelajar antarnegara
b. Secara Damai (Penetration Pacifique)
Dengan cara ini, unsur-unsur kebudayaan baru masuk ke suatu
kebudayaan secara damai. Contohnya yaitu perubahan model baju.
Banyak tren-tren baju saat ini yang dipengaruhi oleh budaya luar.
Unsur-unsur asing ini diterima dengan tidak sengaja dan tanpa
paksaan.
c. Peperangan (Kekerasan)
Unsur kebudayaan baru yang dapat dimasukkan secara paksa ke
dalam kebudayaan penerimanya. Cara seperti ini dapat dilaku-
kan dengan peperangan.
2. Akulturasi
Akulturasi merupakan proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan
baru dari luar secara lambat dengan tidak menghilangkan sifat khas
kepribadian kebudayaan sendiri. Contoh, budaya selamatan merupa-
kan bentuk akulturasi antara budaya lokal dalam budaya Jawa dengan
budaya Islam.
3. Asimilasi
Asimilasi merupakan proses penerimaan unsur-unsur
kebudayaan dari luar yang bercampur dengan unsur-unsur
kebudayaan lokal menjadi unsur-unsur kebudayaan baru
yang berbeda. Contoh, membaurnya etnis Tionghoa dengan
masyarakat pribumi. Proses asimilasi akan berlangsung
lancar dan cepat dipengaruhi oleh beberapa faktor
pendorong, yaitu:
a. Adanya toleransi antarkebudayaan yang berbeda.
b. Adanya kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi.
c. Adanya sikap menghargai terhadap hadirnya orang asing dan
kebudayaan yang dibawa.
d. Adanya sikap terbuka dari golongan berkuasa.
e. Adanya unsur-unsur kebudayaan yang sama.
f. Terjadinya perkawinan campuran.
g. Adanya musuh bersama dari luar.
Selain faktor-faktor pendorong terdapat juga faktor-faktor yang
dapat menghambat proses asimilasi antara lain:
a. Letak geografis yang terisolasi.
b. Rendahnya pengetahuan tentang kebudayaan lain.
c. Adanya ketakutan terhadap budaya lain.
d. Adanya sikap superior yang menilai tinggi kebudayaannya
sendiri.
e. Perasaan in-group yang kuat.
f. Adanya perbedaan kepentingan.
4. Akomodasi
Akomodasi adalah proses penerimaan unsur-unsur kebudayaan lokal.
Contoh, penerimaan ide demokrasi dan ide tentang HAM dari
kebudayaan Barat. Proses penerimaan ini tentunya membawa
perubahan pada masyarakat yang bersangkutan. Karenanya melalui
proses akomodasi perubahan sosial dapat terjadi. Namun, dalam hal-
hal tertentu proses akomodasi merupakan proses penerimaan unsur-
unsur kebudayaan luar dalam rangka menghindari konflik.
Komentar
Posting Komentar